Showing posts with label PUISI. Show all posts
Showing posts with label PUISI. Show all posts

12 January 2018

Aku Hanya

Aku mengakuinya,
Aku membunuhmu berkali-kali
dan aku gagal berkali-kali

Diri ini bersikeras mencintaimu
kumintai diam ia menolak
kumintai berpaling
ia mengamuk

Tapi aku lelah
Aku lelah jatuh cinta...
Sendirian

Aku melihat kau
Tersenyum pada
wanitamu yang baru

Lalu kuputuskan
memulai arah baru
membuka jalan untuk
Dia yang mencintaiku

Bukan,
aku tetap aku yang dulu
mengejar cinta yang aku mau
mulai menjajari langkah
tak mau sekedar menerima

Tapi sekali lagi aku hanya
lelah jatuh cinta sendirian
Aku hanya tak ingin
menjadi penonton
kebahagiaanmu

Maka kali ini kuputuskan
untuk menerima cinta
dan tak lagi mengejar
sekedar merasakan
jatuh cinta
berdua

12 October 2014

Negeri PuraPura

Bagaimana jika kau adalah pemimpin negeri purapura
lengkap dengan mahkota rupa lupa
plus sebutan dasa muka

Bagaimana jika aku ini pimpinan negeri lukaluka
Hidupku di garis dukaduka
dan menjadikanku pemburu suka cita

Hari itu pemimpin negeri purapura mengunjungi negeri lukaluka
Ia menyuguhkan suka cita
Aku memburunya dengan cara ruparupa
dan terbius tanpa alpa

Bias purapura menyerupai cinta
Binarnya menyala
Elok dan tampak tak berbahaya

Aku lunglai pada denyarnya cinta
Biasan purapura dan tak luka
Ah! Aku memang selalu cari garagara

Pemburuanku pada suka cita
nyatanya tersesat pada dia yang purapura
Aku kembali pada lukaluka
merawat lagi lukaku yang digdaya

Tapi kali ini aku merawatnya bukan agar pulih jadi sedia kala
Tapi agar tetap menjadi luka yang sama
yang bernama...
yang diameternya tetap lima
terlebih, yang digoreskan oleh pangeran purapura
yang mulanya otak tanda tanya

Iya, otaknya adalah tanda tanya
Pertanyaan tentang rupa suka cita
yang bodohnya kutanyakan pada pemimpin purapura
yang kukira tak pernah lukaluka
dan bodohnya lagi baru kuingat bahwa ia bermahkota lupa


NoLand, 121014

21 September 2014

Handai Tuan



Apa yang hendak ditagih
pada janji tanpa tulang?
Kepada tuan atau handai tuan?
Handai tuan itu ekosistem
dan tuan pemilik janji itu
tak serumpun denganmu

Tuan ada pada piramida paling bawah
dan kau kaum paling kerucut dalam piramida
Mengapa ujung dan ujung dipertemukan?
Siapa yang mengenalkanmu pada tuan?
Kepentingan? Takdir?
Entah apapun

Jika ini andai yang landai
dan kemungkinan itu kata yang mati
Apa jadinya jika tuan itu ‘Herbihore’?
Pemakan kesenangan. Kenangan bahagia
Masikah kau tagih janjinya?
Sekali lagi
Masihkah kau tagih janjinya?
Sedang tak pernah ada ilmu
Mana tuan dan mana handai tuan


(Noland, 10 Juli 2014)

Renik


 Induk tak pernah kupilih, negeri pun
Rupiah, mata dari alat tukar pangan semata
harus kucari, tak bisa kuminta
Sebab ibu berteman diam
Siapa bapakku tak diulasnya jauh
Tak pernah kutahu, tabu untuk riuh  

Simbol untuk diri turut lahir
Miskin mereka sebut aku
Lalu lalang kudengar dalam retorika pemimpin
selalu aku-aku juga diarak pada barak
Kau tahu, setiap aku yang senasib dengan aku
tak pernah ingar menyandang akuku

Jadi kumohon
Jangan jadikan koloni aku objek renik pemantik dustamu
Jangan jadikan aku si renik, pleton pragmatik
yang membuat negeri tak dapat berhambur cita-cita
Aku-aku ini tak bisa meminta lahir seperti apa
tapi tahu harus bertahan hidup dengan cara apa
Majulah negeriku
Aku-aku ini renik, miskin
Tapi jangan anggap benalu yang selalu
jadi tokoh biang atas gagalnya cita-cita negeri


(Noland, 10 Juli 2014)

14 January 2014

Ikonis

Kertas daur ulang tak pernah mengulang,
pengulangan kata yang menekan penuh ingin.
Cerita di baliknya tentang Prenjak.

Prenjek tiiir... prenjek tiiir...
Begitu larik merdumu terdengar. 


Tapi, tahu apa kau tentang makna di balik suara?
Ketika simbol membuatmu tetap liar!
Ketika harian pagi ini pesta kata - kata,
satire majas, dan lengking sarkasme.
Ah... Kau, pemilik kaveling 200 meter.

Namun kepribadianmu yang lain adalah titik koma.
Majemuk setara bersanding larik berkat keberadaanmu,
dan kau hampir berhasil,
sekalipun "gluprut" peluh perang oposisi media.
Andai kau penguasa kaveling di Negeriku, adalah
lahir dari tangan Geppeto lalu ditiupkannya nyawa oleh "peri biru",
maka rakyat yang nalurinya mengotak tahu kala kau berbohong.
Sebab hidungmu memanjang, dan kau melegenda!

Ini sajak mayor,
untukmu penguasa yang minor di era oposisi media yang 'pop'

Wajah

piramida sisa kelam,
aku bermahkota uban dan peremah "gendar"
anak dan istriku dikunyah kemerdekaan
senyumku hasil mengais sisa perjuangan

senjataku kini bukan bambu runcing

tersisa "cutik" besi dan ransel goni
aku rindu dijajah
kala itu nuraniku merdeka
ketokohanku diperhitungkan, matang betul

kini aku seperti sisa usang, terombang - ambing "bayu" kemudian "gamang"
terdampar pada gunung sisa kecintaan bertuankan belatung
Kasar nian padaku kau yang ku perjuangkan

aku seorangan, sebatang kara kini
bolehkah kupinta satu pada kau yang dulu kuperjuangkan?
rinduku bukan kehinaan yang harus kupendam
aku hanya rindu wajah pada lembar seratus ribuan
lembar yang diperebutkan para koruptor
gantillah gambarnya membawa "cutik" besi dan ransel goni milikku
lalu ku bawa mati perjuanganmu untukku ini
wahai kau yang dulu ku perjuangkan...

Antara



Coba tanyakan pada siang, pernahkah ia menjelajahi pekat malam?
Mungkin kelu bibirnya menjawab tidak,
tapi setidaknya mereka pernah saling menyapa di simpang senja
persinggahan singkat yang mempesona

tanyakan pula pada malam lekat,
pernahkah ia termangu dalam sunyi?
ia pasti katakan tidak,
siang menitipkan beberapa bintang untuk memeluknya

biru lautpun pernah memberontak menjadi ombak,
namun seringkali menjadi tepiannya yg indah

aku kian menjadi antara,
sejak kau putuskan mengembara
salamku untuk kau yang siang,
aku di simpang senja kini
dengan memori tentangmu yang lekat
dan ingatan kisah kita yang ombak

25 November 2013

Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan



(Puisi milik : Sapardi Djoko Damono)

Rusukkah?!!

Sebenarnya ini tumpang tindih dalam gelap pikiranku

Apa benar separuh rusuk kah aku ini?

Apa sebenarnya kau mencarinya, rusuk itu

Atau mencari aku? aku sebenar - benarnya aku?

Aku seutuhnya… 


Aku membuka literatur waktu,

Mencari jejak dimana, apakah lelaki itu kehilangan rusuknya,

Saat mulai samar sundari menemui pendengaranku

Sedang aku, menitikkan fokus pada proksemik

Ternganga berdiskusi dengan aku aku juga,

Dimana tak mungkin ku ciumi sendiri dahiku sebelum tidur,

Tak mungkin ku peluk sendiri ragaku yang denyar

Seperti itukah dampak hilangnya rusuk?

Atau sebenarnya bukan?




28 September 2013

Hati Nurani


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Aku mendiamimu, orokmu,
hingga meremaja,
dan menjadi dewasa ...


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat ingin kau beri pada ibumu,
uang recehmu dalam celengan bekas kaleng susu,
saat ibu katakan padamu tak punya uang,
kala kau merengek minta sepatu kaca seperti milik Cinderella,
ibu menitikkan air matanya ...
lalu mendoakanmu jadi Nawang Wulan


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat kau meremaja,
seorang lelaki mendekatimu,
buruk parasnya,
tak jelas penyebutan aksara dari mulutnya,
tapi alang kepayang astanya memperlakukanmu bak putri,
diceritakannya oleh lelaki itu padamu,
dongeng kelahirannya yang disangkal.
Lalu aku dalam kau ikut tergetar
Perasaan getir, menyumpahi pemilik rahim


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat kau tumbuh dewasa,
bangku maha ajarkan hukum,
untuk menata kehidupan ini, dalihnya.
Sejak Qabil dan Habil, anak Adam,
saling bunuh perkara wanita,
kami (manusia)perlu merasa aman,
katanya...


Tengoklah pasal 34 UUD tanpa butir lebih,
singkat seperti bertahta,
kadang ringan tampak seadanya,
UU penyiaran,
Hukum pers,
kiblat ketimuran pada penemu teknologi.
hanya agar merasa aman...


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Aku ada dalam kau, dalam dia,
dan jiwa - jiwa,
lebih adil dari aksara
yang terbukukan dalam
sandiwara oposisi,
Sebut saja aku Nurani.






(27Sept Dini hari)


Terinspirasi dari syair WS Rendra (Doa untuk anak cucu)


7 January 2013

Salah Siapa?



Aku menghampiri ritme yang menyeluruh
Menyatu dengan degup
Buku – buku jari itu ringkih
Menemukan ruasnya panik
Berbisik pada pergelangan
yang mereka sebut tangan
Meminta menyatu untuk bersama
Kesatuan itu menggapai-gapai
?
Dia tetap saja memunggungi
Penyatuan itu kembali mengajak
Irama kuduk dan desir di punuk
Juga peluh dan kelopaknya
Nafas dan rongganya
Begitupun telinga dan martilnya
?
Tapi dia tak berbalik
Sendi begitupun nyawa
Menjadi relawan tanpa rencana
Meraba nyeri yang mendesir
Tapi bibir ini sedang tak akur dengan pita sopran
Hanya dibantu rahang mengatup menganga
Dibantu raut dengan kerutan dahi
?
Tapi dia semakin jauh
Otakku bukan tanpa usaha,
Semua sistem menjamu perintah,
hanya pita suara yang kini hening
Semua …
Lalu salah siapa jika milyaran sel masih merindumu?

22 November 2012

DOMINO



Kotak-kotakkan aku
Jadikan dua bagian, merajam dan terbahak
Kemudian melingkarlah di sana
Dimana pasak dan tiang saling membelakangi
Beri juga sekat diantaranya,
Anggap saja dermaga
                                                            Dia patas dengan kolaborasi waktu
                                                            Terlihat berirama dan mendayu
                                                            Ini berkarang namun tertutup ubin
                                                            Estetika naskah …
Coba lempar  gambar bulatan besar dengan bagian satu yang kosong,
Itu kutu ilmu sedang memanjat doa
Lanjutkan bagian kosong dengan tiga bulatan di sisi lain,
Di situ hidup kerbau dan burung jalak
Lemparkan lagi tiga bulatan di dua sisi,
Itu kau dan aku di mata-NYA
                                                            Biarlah tersusun seperti itu,
                                                            Yang sama yang saling bertemu
                                                            Bukan artinya anti klimaks,
                                                            Sekedar ombak surut di garis batas(Gg)

BIANG JEN



Seperti miniatur bayi, tapi lebih nyata
Mengapung pada toples berisi cairan
Entah cairan mimpi atau rendaman tangis
Yang tampak tak ada ombak bergejolak
                                                            Ada nama di sana, toples itu berjudul,
                                                            Layaknya resep masakan yang berderet
pada majalah mingguan ibu
Jen kultur ragi biang pembuat roti,
Bagel, Foccacia, Baguette, Ricotta
Benarkah?
Tidak, Jen bersama formula gula tebu,
Rempah dan alkohol dalam jager,
Lebih sering wine, pada vodca, dan tequila
Menyalami kehidupan petang …
                                                            Bukan tidak peduli, bukan harus terpatri
                                                            Nafas demi nafas menusuk ruang kewanitaan,
                                                            Mengapa ciptaan-NYA menciptakan kehidupan?
                                                            Sedang PENCIPTA-nya menggariskan kematian…
                                                            Apakah ciptaan-NYA sudah merasa sebagai PENCIPTA?
(Gg)

ASMARA




Aku mendengarmu,
Demi apapun suaramu indah
Raut wajah dalam benakku masih kamu,
Kamu yang terakhir kali kutatap
Sebelum semuanya hitam dan gelap
                                                            Aku merasakanmu,
                                                            Irama jari-jarimu yang menyematkan cincin di jari manisku
                                                            Telapak yang memegang kedua pipiku, lalu membawanya
                                                            mendekati dada yang lapang dan tenang milikmu
Aku menikmatinya,
Ciuman setangkup bibir yang mengerucut di keningku
Masih hembusan nafas yang sama
                                                            Aku masih merasakanmu,
                                                            Walau tanpa bola mata untuk saling menatap
                                                            Walau tanpa pernah lagi mencuri-curi untuk memandangmu
                                                            Aku tahu kau hidup di hatiku ….
Hari ini, tiba-tiba saja pagi datang
Menyapa retina yang sejak lama selalu petang
Ya Allah …. Aku bisa menemukan lagi warna langit,
Melihat cincin yang masih bersinar di jari manisku
Sekaligus menatap nisan dengan namamu,
Asmara… (Gg)