Aku menghampiri ritme
yang menyeluruh
Menyatu dengan degup
Buku – buku jari itu
ringkih
Menemukan ruasnya
panik
Berbisik pada
pergelangan
yang mereka sebut
tangan
Meminta menyatu untuk
bersama
Kesatuan itu
menggapai-gapai
?
Dia tetap saja
memunggungi
Penyatuan itu kembali
mengajak
Irama kuduk dan desir
di punuk
Juga peluh dan
kelopaknya
Nafas dan rongganya
Begitupun telinga dan
martilnya
?
Tapi dia tak berbalik
Sendi begitupun nyawa
Menjadi relawan tanpa
rencana
Meraba nyeri yang
mendesir
Tapi bibir ini sedang
tak akur dengan pita sopran
Hanya dibantu rahang
mengatup menganga
Dibantu raut dengan
kerutan dahi
?
Tapi dia semakin jauh
Otakku bukan tanpa
usaha,
Semua sistem menjamu
perintah,
hanya pita suara yang
kini hening
Semua …
Lalu salah siapa jika
milyaran sel masih merindumu?
No comments:
Post a Comment