14 January 2014

Ikonis

Kertas daur ulang tak pernah mengulang,
pengulangan kata yang menekan penuh ingin.
Cerita di baliknya tentang Prenjak.

Prenjek tiiir... prenjek tiiir...
Begitu larik merdumu terdengar. 


Tapi, tahu apa kau tentang makna di balik suara?
Ketika simbol membuatmu tetap liar!
Ketika harian pagi ini pesta kata - kata,
satire majas, dan lengking sarkasme.
Ah... Kau, pemilik kaveling 200 meter.

Namun kepribadianmu yang lain adalah titik koma.
Majemuk setara bersanding larik berkat keberadaanmu,
dan kau hampir berhasil,
sekalipun "gluprut" peluh perang oposisi media.
Andai kau penguasa kaveling di Negeriku, adalah
lahir dari tangan Geppeto lalu ditiupkannya nyawa oleh "peri biru",
maka rakyat yang nalurinya mengotak tahu kala kau berbohong.
Sebab hidungmu memanjang, dan kau melegenda!

Ini sajak mayor,
untukmu penguasa yang minor di era oposisi media yang 'pop'

Wajah

piramida sisa kelam,
aku bermahkota uban dan peremah "gendar"
anak dan istriku dikunyah kemerdekaan
senyumku hasil mengais sisa perjuangan

senjataku kini bukan bambu runcing

tersisa "cutik" besi dan ransel goni
aku rindu dijajah
kala itu nuraniku merdeka
ketokohanku diperhitungkan, matang betul

kini aku seperti sisa usang, terombang - ambing "bayu" kemudian "gamang"
terdampar pada gunung sisa kecintaan bertuankan belatung
Kasar nian padaku kau yang ku perjuangkan

aku seorangan, sebatang kara kini
bolehkah kupinta satu pada kau yang dulu kuperjuangkan?
rinduku bukan kehinaan yang harus kupendam
aku hanya rindu wajah pada lembar seratus ribuan
lembar yang diperebutkan para koruptor
gantillah gambarnya membawa "cutik" besi dan ransel goni milikku
lalu ku bawa mati perjuanganmu untukku ini
wahai kau yang dulu ku perjuangkan...

Antara



Coba tanyakan pada siang, pernahkah ia menjelajahi pekat malam?
Mungkin kelu bibirnya menjawab tidak,
tapi setidaknya mereka pernah saling menyapa di simpang senja
persinggahan singkat yang mempesona

tanyakan pula pada malam lekat,
pernahkah ia termangu dalam sunyi?
ia pasti katakan tidak,
siang menitipkan beberapa bintang untuk memeluknya

biru lautpun pernah memberontak menjadi ombak,
namun seringkali menjadi tepiannya yg indah

aku kian menjadi antara,
sejak kau putuskan mengembara
salamku untuk kau yang siang,
aku di simpang senja kini
dengan memori tentangmu yang lekat
dan ingatan kisah kita yang ombak