28 September 2013

Hati Nurani


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Aku mendiamimu, orokmu,
hingga meremaja,
dan menjadi dewasa ...


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat ingin kau beri pada ibumu,
uang recehmu dalam celengan bekas kaleng susu,
saat ibu katakan padamu tak punya uang,
kala kau merengek minta sepatu kaca seperti milik Cinderella,
ibu menitikkan air matanya ...
lalu mendoakanmu jadi Nawang Wulan


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat kau meremaja,
seorang lelaki mendekatimu,
buruk parasnya,
tak jelas penyebutan aksara dari mulutnya,
tapi alang kepayang astanya memperlakukanmu bak putri,
diceritakannya oleh lelaki itu padamu,
dongeng kelahirannya yang disangkal.
Lalu aku dalam kau ikut tergetar
Perasaan getir, menyumpahi pemilik rahim


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Saat kau tumbuh dewasa,
bangku maha ajarkan hukum,
untuk menata kehidupan ini, dalihnya.
Sejak Qabil dan Habil, anak Adam,
saling bunuh perkara wanita,
kami (manusia)perlu merasa aman,
katanya...


Tengoklah pasal 34 UUD tanpa butir lebih,
singkat seperti bertahta,
kadang ringan tampak seadanya,
UU penyiaran,
Hukum pers,
kiblat ketimuran pada penemu teknologi.
hanya agar merasa aman...


Lupakah kau padaku,
pemilikku?

Aku ada dalam kau, dalam dia,
dan jiwa - jiwa,
lebih adil dari aksara
yang terbukukan dalam
sandiwara oposisi,
Sebut saja aku Nurani.






(27Sept Dini hari)


Terinspirasi dari syair WS Rendra (Doa untuk anak cucu)