Terlalu banyak entri baru di brankas blog ini yang tidak pernah jadi aku posting. Entah karena momennya sudah tidak pas lagi dengan hati, atau hati yang begitu malas meminta lagi bantuan otak untuk membuka lembaran lama perkara momen-momen di beberapa entri yang belum aku tuntaskan. Tapi pagi ini, otak dan hati berkejaran membongkar semua brankas memori yang tersimpan di otak. Ingin rasanya berdebat dengan realitas.
Mereka, (yang sengaja aku kelompokkan ke dalam "mereka" tanpa pernah lagi peduli perorangannya), selalu saja mengatakan aku ini pemilih, perfectionis, idealis. Kata-kata memang selalu merepresentasikan banyak hal berbeda yang bisa saja dimaknai berbeda. Tapi coba jika ku jelaskan begini:
REALITAS INI SUDAH TERLALU CARUT MARUT UNTUK KITA TETAP IKUT ARUS DAN PASRAH. Bukankah wajar jika aku mencari seseorang yang bisa diajak membangun dunia baru? Bukankah membangun dunia yang baru itu butuh visi misi yang sama? Idealnya aku butuh seorang laki-laki yang sependapat bahwa realitas ini begitu mengombang-ambingkan, sehingga aku dan dia bisa menciptakan dunia kita sendiri. Membangun cerita kita sendiri. Bukan lelaki yang " Ah kamu terlalu banyak berimajinasi, hidup itu ya yang pasti-pasti saja." Aku butuh seseorang pembuat cerita yang handal, untuk membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kita usahakan berdua. Sekalipun gagal, setidaknya kita tidak pernah saling menyalahkan dan tetap selalu ada untuk satu sama lain. Membuat cerita kita manis, tanpa perlu melegenda namun tragis seperti Romeo And Juliet.
Jika sampai saat ini aku belum bisa memutuskan memilih salah satu di antara yang telah menyodorkan harapan untuk berdampingan, bukan berarti paras rupawan atau uang miliaran yang aku kejar dari pasangan. Aku hanya mencari pencerita hebat, sekaligus pandai mengambil angle yang pas untuk meruntutkan cerita kita berdua. Bukankah sebuah cerita yang menentukan akan terus dibaca atau ditinggalkan adalah bagian opening atau awal cerita? Wajar kan kalau aku pergi setelah cerita awal yang disodorkan membosankan dan tidak membuat greget?
Seperti opening tentang langit yang cerah, hujan deras dan pagi yang indah untuk mengawali cerita. Bosan kan? Apalagi Kamu sudah makan? Lagi apa? Kemana? Sibuk apa? Cerita dengan opening seperti ini membosankan. Bagaimana kalau kita ganti dengan voicenote suara bangun tidurmu yang mengawali hariku? Bukankah membuat aku merasa lebih nyata bahwa aku punya kamu? Atau mungkin tiba-tiba kamu bikin GIF atau mungkin yang lagi keren pake boomer kamu iseng lagi ngapain. Atau parahnya setelah sekian tahun kita bareng ternyata kamu punya blog tentang kita berdua yang baru aku tau pas nggak sengaja searching google tentang kita. Atau hal-hal mengejutkan lain yang bisa kamu kasih. Bukan duit, mobil, enggak. Aku butuh laki-laki kreatif, pengetahuan luas yang bisa bikin dia tidak lagi banyak bicara kata-kata indah tapi di sampingnya bisa bikin aku bilang, aku pilih dia untuk mengarungi hidup ini. Itu aja cukup. Materi bisa kita cari bareng-bareng.
Tapi berapa persen laki-laki kreatif macam begini? Jadi aku bisa terima kalau mereka bilang aku pemilih, idealis, dan perfectionis. Singkatnya sih mungkin aku butuh lelaki yang pengetahuannya lebih banyak dari aku, jadi aku merasa ketika dekat dengan dia aku dapet pengetahuan baru, wawasan baru, mungkin itu yang menyenangkan buat aku. Lelaki yang jadi lawan untuk berfikir bersama, berdebat, bertanya. Bukan lelaki yang menuruti apa saja kataku, apa saja mauku.
Karena apa yang aku lakukan terhadapmu nanti adalah hal-hal gila yang bagi kebanyakan orang dianggap aneh, aku ingin kamu bisa menerimanya, tersenyum, tertawa, dan bilang you are still my lady. Terlepas dari segala hal gila yang aku lakukan, seperti aku akan tahu banget apa yang kamu lakukan 5 sampai 6 tahun yang lalu yang kamu nggak akan sangka aku akan tahu. Aku butuh patner yang tingkatannya sama. Ini bukan masalah mencari yang se-ideologi, tapi yang satu spirit. :D
Dulu pernah, waktu jaman masih gaptek dan baru belajar komputer, ada satu laki-laki, temen satu kelas yang bete banget karena aku terlalu cinta sama pacar. Semua garis pinggiran buku aku kasih nama pacar, sampai ketika dia pinjam buku aku, pas ngembaliin langsung di banting kenceng di atas meja. Katanya "ntar kalau udah putus rasain, tuh buku mau diapain coba nggak bisa ilang." Tapi pas kelas IT dia duduk di samping aku kebetulan, kita lagi belajar personalize, itu loh yang klik kanan di dekstop. Jaman itu aku nggak tau banyak tentang komputer. Dia ikut ekskul IT. Hari itu dia bikin screen sever yang pake tulisan itu loh. Dia tulis nama aku, ANGGIANI :) Aku girang banget, bukan karena dia nulis nama aku, tapi karena dia kok bisa sih bikin screen sever gitu, jadi pas dia balik ke tempat duduknya di samping aku, mungkin dia berharap-nya aku bakal gimana-gimana gitu. Eh aku malah nanya gimana sih caranya bikin screen sever gitu, dia senyum, terus jawab "sini aku ajarin". Setelah bisa, aku bikin screen sever komputer aku pake nama kaya yang dia buat itu, tapi aku tulis sama pacar aku. Dia marah, pergi. haha. Tapi sejak itu kita jadi dekat. Setiap pelajaran b.inggris, kimia, matematika, atau apalah yang dia nggak ngerti pasti ngliat ke arah aku. Sebaliknya, kalau pelajaran bahasa jepang atau biologi, atau apapun yang dia bisa, selalu aku yang ke tempat duduk dia. Apalagi pas olahraga, karena aku larinya nggak terlalu cepat, dia bikin lari kita balance. Barengan. Seru kan rasanya hidup sehari-hari punya temen kayak gini.
Tapi setelah bertahun-tahun berlalu sejak dia pindah sekolah dengan alasan yang aku nggak tahu apa. Sejak dia pamit pergi setelah ngambil bola basket aku di lapangan waktu dia lewat di samping aku yang lagi ekskul basket. Aku ngerasa dia menyelesaikan cerita kita seperti ini. Ya sudah, cerita sudah selesai. Tapi baru-baru ini, mungkin tahun 2016 lalu, dia kembali ke hidup aku dan ngajakin nikah. Rasanya aku seperti ngelihat dia berubah. Kita cuma asik bahas Radit dan Jani sampai detail, sampai bagaimana seharusnya ending Radit dan Jani yang happy. Hidup asik kayak mereka, sampai ungkapan "coba radit usaha lebih keras lagi" atau "Coba Jani ngerti bagaimana menjelaskan sama orang tuanya" dan masih banyak hal yang coba kita perbaiki dari cerita Radit dan Jani. Tapi film itu sudah terlanjur beredar seperti itu, dan orang-orang mengenal ceritanya seperti itu. Tidak ada yang perlu kita ganti. Kemudian begitulah cerita itu mengambang dan perdebatan kita usai setalah aku menolak mendampinginya dan seorang gadis kecil seumur hidup, gadis kecil yang di bawanya, yang dia jelaskan duduk perkara dan cerita di baliknya yang rumit.
Aku tidak ingin menjadi kelanjutan dari cerita yang bersambung. Itu terlalu pelik. Aku ingin menciptakan dan memelihara ceritaku sendiri. Salahkan saja aku karena tidak bisa menerima masa lalumu. Tapi ini terlalu pelik untuk membuat cerita lagi.
Juga laki-laki lain yang bikin aku mundur teratur dan angkat kaki. Kalian perlu tahu agar sedikit lega setelah mengetahuinya. Tuhan itu Adil kok. Mungkin ketika kamu sangat cinta dan sedang cinta-cintanya sama aku dan aku pergi kalian sangat kecewa. Tenang, aku juga merasakan apa yang kalian rasakan, ketika aku mendapatkan laki-laki yang aku sudah mulai yakin dan memberikan hatiku padanya, dia bahkan pergi dan mundur teratur. Itu hal yang wajar dan aku nikmati prosesnya. Bukankah jodoh sudah Tuhan atur? Percayalah, semua akan baik-baik saja. Semoga ceritamu bersamanya menjadi cerita yang menginspirasi banyak orang nantinya. Dan aku? masih terus bersikeras menemukan dia yang bisa diajak bikin cerita bareng, ya anggaplah cerita yang komersil, sampai Tuhan sang penerbit menerima proposal cerita kita dan menerbitkannya kemudian secara mayor.
Ya, aku memang sekeras kepala itu. Maafkanlah...