21 September 2014

Handai Tuan



Apa yang hendak ditagih
pada janji tanpa tulang?
Kepada tuan atau handai tuan?
Handai tuan itu ekosistem
dan tuan pemilik janji itu
tak serumpun denganmu

Tuan ada pada piramida paling bawah
dan kau kaum paling kerucut dalam piramida
Mengapa ujung dan ujung dipertemukan?
Siapa yang mengenalkanmu pada tuan?
Kepentingan? Takdir?
Entah apapun

Jika ini andai yang landai
dan kemungkinan itu kata yang mati
Apa jadinya jika tuan itu ‘Herbihore’?
Pemakan kesenangan. Kenangan bahagia
Masikah kau tagih janjinya?
Sekali lagi
Masihkah kau tagih janjinya?
Sedang tak pernah ada ilmu
Mana tuan dan mana handai tuan


(Noland, 10 Juli 2014)

Renik


 Induk tak pernah kupilih, negeri pun
Rupiah, mata dari alat tukar pangan semata
harus kucari, tak bisa kuminta
Sebab ibu berteman diam
Siapa bapakku tak diulasnya jauh
Tak pernah kutahu, tabu untuk riuh  

Simbol untuk diri turut lahir
Miskin mereka sebut aku
Lalu lalang kudengar dalam retorika pemimpin
selalu aku-aku juga diarak pada barak
Kau tahu, setiap aku yang senasib dengan aku
tak pernah ingar menyandang akuku

Jadi kumohon
Jangan jadikan koloni aku objek renik pemantik dustamu
Jangan jadikan aku si renik, pleton pragmatik
yang membuat negeri tak dapat berhambur cita-cita
Aku-aku ini tak bisa meminta lahir seperti apa
tapi tahu harus bertahan hidup dengan cara apa
Majulah negeriku
Aku-aku ini renik, miskin
Tapi jangan anggap benalu yang selalu
jadi tokoh biang atas gagalnya cita-cita negeri


(Noland, 10 Juli 2014)

14 January 2014

Ikonis

Kertas daur ulang tak pernah mengulang,
pengulangan kata yang menekan penuh ingin.
Cerita di baliknya tentang Prenjak.

Prenjek tiiir... prenjek tiiir...
Begitu larik merdumu terdengar. 


Tapi, tahu apa kau tentang makna di balik suara?
Ketika simbol membuatmu tetap liar!
Ketika harian pagi ini pesta kata - kata,
satire majas, dan lengking sarkasme.
Ah... Kau, pemilik kaveling 200 meter.

Namun kepribadianmu yang lain adalah titik koma.
Majemuk setara bersanding larik berkat keberadaanmu,
dan kau hampir berhasil,
sekalipun "gluprut" peluh perang oposisi media.
Andai kau penguasa kaveling di Negeriku, adalah
lahir dari tangan Geppeto lalu ditiupkannya nyawa oleh "peri biru",
maka rakyat yang nalurinya mengotak tahu kala kau berbohong.
Sebab hidungmu memanjang, dan kau melegenda!

Ini sajak mayor,
untukmu penguasa yang minor di era oposisi media yang 'pop'

Wajah

piramida sisa kelam,
aku bermahkota uban dan peremah "gendar"
anak dan istriku dikunyah kemerdekaan
senyumku hasil mengais sisa perjuangan

senjataku kini bukan bambu runcing

tersisa "cutik" besi dan ransel goni
aku rindu dijajah
kala itu nuraniku merdeka
ketokohanku diperhitungkan, matang betul

kini aku seperti sisa usang, terombang - ambing "bayu" kemudian "gamang"
terdampar pada gunung sisa kecintaan bertuankan belatung
Kasar nian padaku kau yang ku perjuangkan

aku seorangan, sebatang kara kini
bolehkah kupinta satu pada kau yang dulu kuperjuangkan?
rinduku bukan kehinaan yang harus kupendam
aku hanya rindu wajah pada lembar seratus ribuan
lembar yang diperebutkan para koruptor
gantillah gambarnya membawa "cutik" besi dan ransel goni milikku
lalu ku bawa mati perjuanganmu untukku ini
wahai kau yang dulu ku perjuangkan...

Antara



Coba tanyakan pada siang, pernahkah ia menjelajahi pekat malam?
Mungkin kelu bibirnya menjawab tidak,
tapi setidaknya mereka pernah saling menyapa di simpang senja
persinggahan singkat yang mempesona

tanyakan pula pada malam lekat,
pernahkah ia termangu dalam sunyi?
ia pasti katakan tidak,
siang menitipkan beberapa bintang untuk memeluknya

biru lautpun pernah memberontak menjadi ombak,
namun seringkali menjadi tepiannya yg indah

aku kian menjadi antara,
sejak kau putuskan mengembara
salamku untuk kau yang siang,
aku di simpang senja kini
dengan memori tentangmu yang lekat
dan ingatan kisah kita yang ombak

25 November 2013

Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari

Waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang

Aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan

Aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang

Aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan



(Puisi milik : Sapardi Djoko Damono)