21 November 2012

Bapak

Not james bon, or spiderman, But my Dad :*
Siang itu Warwer kuda mesin tak sedikitpun mengoyak ketenangan pikiranku , aku dan 550D di tangan yang sejak tadi asik menangkap adegan personifikasi terpaku pada garis wajah teduh tertutupi siluet topi miliknya. Jas warna kuning pudar yang dikenakannya kontras dengan terik siang. Tas di lengan kiri dan tongkat yang membantunya berjalan di tangan kanan. Perkiraanku Lelaki ini berumur 63 atau mungkin 65 dan bisa saja 67 tahun, intinya yang melintasi otakku adalah kepala enam umurnya. Ia berjalan menuju arah balai kota. Mataku terus berlari mengikutinya seperti tak ingin kehilangan momen, namun tanganku terlalu kaku untuk refleks mengintip dari viewfinder dan menekan shutter demi mengabadikan momentum. Aku berlari tanpa mengerti alasan mengapa ingin berlari, hanya saja aku merasa sudut pandangku tak cukup menjawab segala pertanyaan yang melintas. Aku berlari dari taman kota menujunya, sebentar - sebentar meneriakinya dengan sebutan Bapak namun Lelaki itu terlalu terpaku menatap rute yang dilaluinya. Dan aku sampai dihadapannya.

"Selamat siang Pak, kenalkan nama saya Fikar." Aku mengulurkan tangan

Lelaki yang ku panggil Bapak ini hanya tersenyum lalu menjabat tanganku.

"Maaf saya mengganggu perjalanan Bapak, tapi saya berharap sekali Bapak mau duduk-duduk sebentar menikmati es puter sambil bercerita dengan saya." Lanjutku sambil menunjuk ke arah penjual es

Untuk kedua kalinya lelaki di sampingku ini hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Kami berjalan menuju gerobak es yang berada di pinggir taman kota. Berjalan di sampingnya mengundang kegirangan yang berlebihan, jantungku dag dig dug tak bersebab. Tanpa sengaja pula aku menikmati alunan tuk tuk tongkat dan seretan langkahnya. Ada rasa nyaman lain yang menyeruak masuk mendominasi relung.

Duduk menikmati segelas es puter beberapa suap aku memulai.

"Kalau saya boleh tahu Bapak mau kemana?"

"Saya mau pulang mas."

"Bapak dari mana?"

"Habis mbersihkan dan ngrapikan toko bunga orang yang di pasar sana." Sambil menunjukkan pasar yang dimaksud.

"Maksudnya toko bunga milik Bapak?" Aku melanjutkan

"Bukan, punya orang mas saya cuma bantu-bantu."

Rentetan bariton itu membuatku menatap naik turun larik bibir yang membunyikannya. Lalu mataku berhenti pada jas yang membalut tubuhnya. Logo Universitas Indonesia ada disana, bersanding disamping lengan kirinya.

"Bapak dosen universitas Indonesia?" Kataku sambil menatap logo pada jas.

Kami kemudian menatap logo itu bersamaan. Lelaki di sampingku ini terdiam lumayan lama. Menengadah ke udara dan matanya berkaca-kaca. Aku tidak sedang berdrama, sejauh lelaki ini menyembunyikannya aku mengintip air mata yang hampir menetes itu. Lalu suara bariton itu terdengar kembali.

"Jas ini punya anak saya, dia sudah lulus dari jurusan menejemen UI tiga tahun yang lalu. Apapun dan bagaimana juga saya kalo bahasa jawanya itu mekso supaya anak saya itu bisa jadi orang. Biar sukses dan nggak diremehin orang mas. Sekolah yang tinggi biar saya yang banting tulang. Semua penghasilan saya ya untuk dia. Untuk beli buku, bayar spp, sama ini bayar jas ini. Anak saya langsung dapat kerja setelah lulus. Kerjanya ya di Jakarta juga. Terakhir ketemu waktu dia wisuda, saya naik panggung mas karena dia itu katanya lulusan terbaik. Bangga saya mas. Dilihat orang banyak, difoto-foto. Tapi sejak dia kerja sampe sekarang dia belum pernah pulang, ngabari saja nggak sempat. Mungkin kerjanya orang pinter itu sibuk banget ya mas. Tapi mau telpon itu saya ya ngga punya. Kasian mungkin dia capek ngirim surat. Selama nyekolahin dia saya ngga pernah beli baju baru, ya baju-baju bekas itu yang saya pakek. Ini baju paling mahal yang pernah saya pakek. Wong dipakek anak saya itu cuma beberapa kali. Masih bagus. Ya cuma ini yang bisa bikin saya seneng, bangga inget anak saya itu. Saya pengen banget dia pulang jenguk saya, njenguk makam ibuknya. Saya ngga pernah punya pikiran untuk nyusahin dia. Tapi kangen itu wajar toh mas."

Aku mengangguk cepat. Dadaku sesak. Lelaki ini tak meneteskan air matanya sedikitpun. Begitu tegar dan bangganya bercerita, walau rasa pilu ada disana. Tak sedikitpun aku memotong bicaranya, terpaku mendengar setiap bagian cerita. Aku memandangi lelaki ini lekat-lekat. Jas itu seperti mengangguk setuju dan memeluk erat Bapak yang berada disampingku erat. Sesekali menatapku dan memeluk kembali pemakainya.(Gg)














No comments:

Post a Comment